Minggu, 30 November 2014

Berani Sukses

Seberapa besar rejeki yang kita inginkan, itu sama dengan seberapa besar kita berani mengambil resiko.
HANYA segelintir entrepreneur yang dapat mencapai tangga sukses teratas tanpa perjuangan dan pengorbanan. Resepnya, antara lain, kalau melakukan kesalahan, mereka melupakannya dan terus bekerja, hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Menurut saya, kita sebagai entrepreneur haru selalu berani berpikiran sukses dan berani mengembangkan kepercayaan diri.

Harus selalu ingat, bahwa kita adalah orang yang berpotensi dalam bisnis, yang setiap saat harus selalu melipat gandakan kepercayaan diri, dan bisa menghilangkan penyakit exucitis, penyakit mencari alasan. Apakah itu alasan yang berkaitan dengan kesehatan, intelejensia atau kecerdasan, usia, dan nasib. Kita pun juga harus berani merubah kegagalan menjadi kemenangan atau kesuksesan. Untuk sebuah kesuksesan, dibutuhkan keberanian secara terus menerus untuk mempelajari kemunduran bisnis kita menuju kesuksesan. Dalam bisnis, sangat wajar kalau kita
belajar dari kesuksesan yang dicapai pesaing kita. Namun yang penting, bagaimana kita harus menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat oleh pesaing kita itu. berani sukses

Kita juga harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan yang selalu ada dalam kehidupan bisnis. Upaya-upaya mencipta ide-ide terbaik yang bersifat competitive advantage saya kira menjadi sangat penting, dan kalau perlu kita gabung-gabungkan ide-ide terbaik dari para pesaing kita. Dengan kata lain, sebagai seorang entrepreneur, kita pun harus senantiasa setiap saat selalu membuka mata dan
telinga terhadap suatu kesempatan atau peluang. Sebab, disamping faktor rejeki, maka peluang itu juga menyangkut dengan faktor nasib kita. Bila kita mampu melakukan hal itu, tidak mustahil kesuksesan akan dapat kita raih.

Saya yakin, kita semua pasti mendambakan kesuksesan. Ingin memperoleh yang sebaik-baiknya dari perjalanan hidupnya. Tidak ada orang yang bisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Sukses berarti banyak hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat. Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani.

Dengan demikin sukses berarti self respect, merasa terhormat, terus menerus merasa bahagia, dan merasakan kepuasan dari kehidupannya. Itu artinya, kita berhasil berbuat lebih banyak yang bermanfaat. Dengankata lain, sukses berarti menang! Namun sayangnya, di era globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua entrepreneur berani menyebutkan, bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan.

Sebaliknya, saya justru berpendapat bahwa kita sebagai entrepreneur harus berani menyatakan dirinya sukses. Karena dengan keberanian kita menyatakan sukses, akan membangkitkan kepercayaan diri. Dengankepercayaan diri yang besar itu, kita akan lebih bersemangat untuk meraih kesuksesan. Dan saya tetap yakin, betapa pun sibuknya entrepreneur-entrepreneur yang sukses, ia akan tetap siap membantu teman-teman yang memerlukannya. Dan, mereka semakin percaya pada Tuhan sebagai suatu kekuatan besar.

Mau Sukses? Berani Tampil Beda

Masa muda adalah masa yang penuh dengan gejolak dan emosi. Masa pencarian jati diri, ingin diakui dan perasaan menggebu ingin mencoba sesuatu yang baru. Namun sebenarnya di masa inilah karakter dan masa depan seseorang dibentuk. Aktualisasi diri di masa ini membuat kita sadar akan tujuan hidup kita. Banyak yang menemukan tujuan hidupnya, banyak juga yang hidup hanya sekedar melalui hari demi hari tanpa arah yang pasti.
Masa muda yang sukses adalah masa muda yang di manfaatkan untuk mencari ilmu dan pengalaman positif sebanyak mungkin. Namun, kebanyakan pemuda menganggap masa ini adalah masa yang indah untuk mendekati lawan jenis, untuk hura-hura, every day dugem, dan lain-lain. Hal itu sangat umum terjadi di mana saja, baik di kota maupun di desa.

Apalagi di jaman sekarang, yang mana nilai-nilai moral sudah mulai bergeser dan ditinggalkan. Banyak dari mereka terpengaruh mode, trend, dan suguhan media televisi yang sering tidak mendidik.
Saya prihatin dengan pergaulan bebas muda-mudi sekarang. Sepertinya bangsa yang dulu terkenal berbudi luhur dan religius, kini harus mulai menata kembali pendidikannya. Segala yang glamour dan wahh jadi idola, maksiat jadi kebanggaan, popularitas dikejar-kejar, pergaulan bebas ala binatang merajalela, bahkan mulai meracuni para pelajar. Sementara prestasi yang positif jarang dipublikasikan, seperti jadi barang kuno saja. Mau ke mana ya kaki ini melangkah? Ke tempat A, acaranya cuma hura-hura; ke tempat B pesta miras dan narkoba… Dengan si A, sukanya nongkrong; dengan si B, makan ati, pacaran melulu…
Mau Sukses? Berani Tampil Beda
Kenapa bingung sahabat…? Kenapa kita harus sama dengan mereka? Bukankah kita
mempunyai impian sukses sendiri. Mereka tak akan membantu mewujudkan impian sukses kita. Jadi, beranikah Anda untuk tampil lain dari yang lain, demi mengejar impian kita. Beranikah Anda tampil beda?
Sibukkan diri kita menuntut ilmu, sementara teman-teman nongkrong di mall atau tempat hiburan lainnya. Sibukkan diri kita untuk belajar bisnis, sementara yang lain pergi ke pesta atau diskotik. Teman-teman sibuk pacaran, sibukkan diri kita mengikuti seminar investasi atau seminar MLM. Biasakan kita rajin berolah raga, sementara kebanyakan orang malas-malasan. Jadikan diri kita taat beribadah, sementara kebanyakan orang ingat Tuhan hanya kalau lagi susah.

Pendek kata, kalau kegiatan itu positif, kenapa tidak kita lakukan, walau kebanyakan
orang enggan melakukan. Walau awalnya sendirian, pasti nanti kita akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita.
Kalau tidak ingin menjadi orang rata-rata, maka beranikan diri tampil beda, melakukan
pekerjaan sebaik-baiknya, melakukan pekerjaan menantang yang banyak dijauhi orang. Membuka lapangan kerja contohnya, atau berwiraswasta. Dari pada pusing cari kerja, sementara unemployment di mana-mana, lapangan kerja sangat terbatas. Beranikah kita tampil beda, dengan menjadi solusi bagi mereka, atau minimal bagi diri sendiri…?
Bagi yang sudah bekerja di bidang apa saja, beranikah Anda tampil beda dengan melakukan tugas sebaik-baiknya? Menjadi yang terbaik di bidang Anda… Sukses menantang keberanian dan kerja keras kita, beranikah kita tampil beda, dengan menjemputnya di barisan paling depan. Dalam pendidikan, karier, bisnis, sosial-politik, dan semua aspek kehidupan; beranikah kita tampil beda, menjadi di atas rata-rata?
Mengutip ceramah Dato’ Dr. H. Mohd Fadzilah Kamsah dari Malaysia, “Orang cemerlang suka lakukan apa yang orang gagal tak suka lakukan…!”
Selamat meraih sukses yang luar biasa!

Berbaik Sangka Adalah Pegas Untuk Bangkit

Be a positif ! Think big! Berjiwa besar! All of this have the same destination yaitu berpikir positif.
Betul memang, semua hal dapat dilakukan dengan baik selama kita memandang semua hal dengan kaca mata positif. Bila kita menghadapi kesenangan dengan menggunakan kaca mata positif maka kesenangan kita akan menjadi sesuatu yang luar biasa, dan membuat kita menjadi orang yang lebih bersyukur atas apa yang kita miliki. Berpikir positif juga menjadi senjata pamungkas yang paling ampuh pada saat kita menghadapi kegagalan atau kesalahan.
Berbaik Sangka Adalah Pegas Untuk Bangkit

Hidup pasti akan pernah merasakan yang namanya kegagalan. Baik itu di karir, usaha, bahkan urusan percintaan sekalipun. Nah pada saat kita menghadapi yang namanya kegagalan atau jatuh di dalam hidup kita, maka kita sangat membutuhkan yang namanya berpikir positif. Kenapa demikian?
Berpikir positif mengantarkan kita kepada suatu arena berpikir jernih dan solution creator. Pada saat kita menghadapi masalah dengan sikap positif thinking, maka kita tidak akan menghabiskan waktu untuk mencari siapa penyebabnya atau siapa kambing hitamnya. Orang yang berpikir positif pasti akan selalu bilang : รข€°Ini adalah bagian dari hidupku, aku adalah manusia
yang tidak akan lepas dari kesalahan dan saya yakin bahwa kesalahan itu akan menjadikan saya individu yang lebih baik.

Di dalam bukunya Brian Tracy, seorang CEO Brian Tracy Internasional dalam bukunya Change Your Thinking Change Your Life, mengatakan dalam melakukan kesalahan selalu ada dua pihak. Dan dia mengatakan bahwa fakta menunjukkan diperlukan dua orang untuk membangun sebuah penjara, sang tawanan dan sang penjaga, dan kedua duanya akan terperangkap dalam penjara tersebut. Tentu anda menanyakan kenapa saya mengutip kalimat diatas, disini saya ingin mengajak anda berpikir bahwa kegagalan yang anda rasakan sekarang juga merupakan buah dari kesalahan
kesalahan anda lakukan baik itu kecil, sedang atau besar, jadi anda tidak perlu lagi untuk melihat siapa yang salah dan akan anda jadikan kambing hitam, itu adalah perbuatan sia sia yang menghabiskan energi anda, Cobalah anda hilangkan sugesti negative anda dan bawalah pikiran positif anda untuk menghadapi masalah dan kegagalan itu maka anda akan diantarkan untuk menjadi seorang solution creator.
Berikut saya akan membawakan kepada anda sebuah kasus yang pernah saya alami di tempat saya bekerja.

Saya waktu menghadapi suatu masalah yang sangat pelik, di mana saya menghilangkan cek gaji karyawan yang telah di tanda tangani oleh para direksi yang saat itu sedang bertugas di luar negeri. Sementara hari itu adalah tanggal 25 dan semua karyawan di kantor Jakarta dan di kilang di Palembang sedang menunggu slip gaji yang saya pegang untuk di kirimkan ke bank agar di transfer ke masing-masing rekening mereka. Namun hal itu sepertinya akan tertunda.

Lalu saya melapor ke atasan saya seorang finance manager, dan saya menceritakan kejadian tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dia dengan santainya mengatakan :
Baiklah, sekarang kita lihat berapa dana yang ada di rekening kita, berapa yang ada di bank dan kemungkinan dari mana dana tersebut bisa kita kumpulkan.
Lalu saya jalankan perintah atasan saya dan dalam waktu 15 menit masalah yang sudah membuat saya keringat dingin dari pagi tadi selesai. Dan kita bisa menangani masalah tersebut dengan meracik semua rekening yang ada. Itulah gunanya seorang teman, bos dan partner yang berpikir positif dalam menghadapi masalah. Mereka selalu menjadi solution creator, dan contoh yang di berikan atasan saya tadi selalu menjadi pedoman bagi saya, bahwa kita tidak memiliki cukup waktu untuk menyalahkan orang. Yang harus kita pikirkan bahwa kita harus bangun dan merapikan
bongkahan-bongkahan kegagalan yang sedang menimpa kita.
Jadi bila anda menghadapi masalah, berpikirlah positif karena dia akan menjadi pegas bagi anda melompat lebih tinggi.

Kisah Nyata Pasangan Yang Mengharukan

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami.
Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya.
Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain.
Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun.
Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku.
kisah nyta pasangan usami istri



Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri.
Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku.

Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan.
Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku.

Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak.

Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi.
Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah.
Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku.
Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan situasi penuh kebencian, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak.
Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku.
Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah.
kisah pasangan yang mengharukan
Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali.
Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku.
Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai.
Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku.
Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung.
Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku.
Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat.
Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.
Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock.
Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku.
Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu

Berdisiplinlah Dahulu

Berdisiplinlah Dahulu
Temannya disiplin adalah keteladanan. Menteri di Jepang disiplin masuk kantor dan memimpin rapat. Dosen di Jepang disiplin masuk ruang kuliah dan memberi ujian. Perdana Menterinya disiplin membayar pajak dan punya ID, dimana didalamnya ada catatan tilang, sosial, ekonomi. Di Indonesia, menteri dan dosen jika telat malah bangga, seolah-olah malah merasa "orang penting" atau "dipentingkan" karena kehadirannya ditunggu-tunggu. Malahan sering merasa bangga jika bisa telat dan ditunggu oleh yang lain!
Jika Indonesia mau disiplin, semuanya dimulai dari keteladanan pemimpin/atasan. Mari berubah dari diri pemimpin dahulu, baru meminta anak buah/pengikut disiplin. Orang tua yang tidak sholat, sulit menasehati anaknya untuk sholat. Orang tua yang merokok jarum supernya ngumpet-ngumpet di depan anak-anaknya, sulit sekali melarang anaknya tidak merokok.

Bapak saya merokok, adik laki-laki saya merokok. Bapak saya ngopi, adik laki-laki saya sukangopi. Bapak saya suka ngebir, saya juga suka ngebir. Ibu saya pekerja keras, saya pekerja keras. Ibu saya suka disiplin, saya suka disiplin. Teman saya Didik namanya, sudah pensiun, dulu korupsinya di kantor pajak gak ketulungan, anaknya kini suka korupsi di polsek, ditempatnya bertugas.
Ketidak disiplinan penyakit menurun, maksudnya, diturunkan dari pemimpin ke bawahan. Keteladanan juga penyakit menurun..! Pejabat/pemimpin yang disiplin, rakyat ngikut saja kok!
Mari berdisiplin diri dahulu, jika ingin orang lain disiplin!
Salam mulia, salam mulai
Harry 'uncommon' Purnama
MOTIVATION TO CHANGE: 'WASH YOUR HAND'

Berfokuslah Pada Kelebihan Diri Sendiri

Berfokuslah Pada Kelebihan Diri Sendiri
"Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu," kata seorang guru pada anak-anak sekolah dasar. Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.
Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras :
"Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo." Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.
Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, "Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan." Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : "Kenapa tulisnya kadang-kadang?". Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata :
"Emang cuma kadang-kadang, Bu guru." ! Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : "Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu."
Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya :
"Tiga saja, Bu guru?".
"Ya, tiga saja!" jawab sang guru. Anak tadi langsung menyambung :
"Bu guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!".
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari. Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.
Baru-baru ini, saya menyaksikan di sebuah televisi swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya. "Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu dengan sangat tepat?", kata saya dalam hati terkagum-kagum.
Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata,
"Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi, dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi."
Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : "Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita."
Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.

Jadilah seperti Air mengalir dan Berhenti Menjadi Gelas

Jadilah seperti Air mengalir dan Berhenti Menjadi Gelas
 Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru.
"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan murid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,
"Bagaimana rasanya?"
Jadilah seperti Air mengalir dan Berhenti Menjadi Gelas"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.
Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."